Jumat, 26 Juni 2015

DIAGNOSIS MASALAH DALAM PRAKTIK KONSELING DI SEKOLAH 
Oleh: Boy Soedarmadji, S.Pd., M.Pd., CH., CHt 

A. Latar Belakang 
Permasalahan yang dihadpi oleh individu saat ini begitu beragam, baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun internal. Permasalahan internal seringkali muncul karena individu mengalami kesulitan untuk memenuhi tugas perkembangan dan tugas pertumbuhan. Tugas perkembangan terkait dengan hal-hal yang bersifat psikologis seperti mengenal “siapa saya” dan hal-hal yang bersifat afektif. Sedangkan tugas pertumbuhan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan fisiologis individu. Bahkan tidak jarang, masalah fisiologis akan sangat mempengaruhi emosi atau afektif individu. Permasalahan eksternal muncul diakibatkan oleh lingkungan di mana individu berada, seperti di keluarga, sekolah dan masyarakat. Individu seringkali mengalami ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Pada praktik konseling di sekolah masih banyak ditemui adanya malpraktik. Artinya, penanganan masalah yang dihadapi oleh individu seringkali tidak didasarkan pada teori konseling yang ada, bahkan seringkali terjadi bahwa penanganan masalah individu hanya dilakukan dengan cara yang “diwariskan”. Pada prinsipnya, penanganan masalah siswa/individu dilakukan dengan memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut, a) identifikasi masalah, b) diagnosis masalah, c) prognosis, yaitu menentukan strategi konseling, d) treatment, yaitu aplikasi strategi konseling, e) follow up, yaitu memberikan tindak lanjut dari hasil konseling. Identifikasi masalah dilakukan saat pertemuan awal konseling. Pada kegiatan ini, setelah rapport terbentuk maka konselor akan mengeksplorasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa. Pada tahap ini, sangat mungkin individu akan menceritakan banyak masalah yang dihadapi. Dalam kondisi ini, konselor sebaiknya fokus pada semua cerita individu dan tidak memikirkan apa masalah individu secara bersamaan. Pada tahap diagnosis, konselor mulai mengajak individu untuk memilah dan memilih permasalahan mana yang menjadi permasalahan utama individu. Tahap ini merupakan tahap paling penting dalam keseluruhan proses konseling, karena pada tahap ini, konselor dan konseli/invidu akan menemukan permasalahan yang sebenarnya. Pada dasarnya, jika kita mempergunakan teori Freud, maka permasalahan yang diutarakan oleh konseli masih pada posisi puncak gunung es, yang artinya permasalahan sebenarnya mungkin masih perlu digali lagi. Tahap selanjutnya adalah prognosis. Tahap ini merupakan sebuah tahapan dimana konselor akan menentukan strategi intervensi terhadap permasalahan individu. Perlu kita ketahui bahwa permasalahan individu mungkin tidak bisa diselesaikan dengan satu strategi intervensi saja, tetapi mungkin membutuhkan strategi konseling gabungan. Hal penting di sini adalah kemampuan konselor dalam menemukan masalah akan sangat berpengaruh terhadap penentuan strategi konseling. Treatment merupakan tahapan dimana strategi konseling dilaksanakan. Pada proses ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh konselor yaitu, a) pemberian rasional strategi, b) pemberian contoh pelaksanaan strategi, c) melatih individu, d) memberikan pekerjaan rumah, dan e) evaluasi. Hal ini mengindikasikan bahwa individu tidak dapat diberikan treatment tanpa mempergunakan tahapan-tahapan tersebut. Follow up merupakan tahapan dimana konselor akan mengupayakan agar perubahan perilaku yang dialami oleh individu dapat terjaga terus. Upaya yang dapat dilakukan oleh konselor sekolah adalah bekerja sama dengan significant others (orang terdekat). Tentu saja hal ini dilakukan dengan persetujuan konseli/individu.

B. Diagnosis Masalah Model A-B-C 
Diagnosis model A-B-C merupakan akronim dari Antecedent (peristiwa yang mendahului, Behavior (Perilaku yang mengikuti), dan Consequence (konsekuensi yang mengikuti). Model diagnosis ini seringkali dipergunakan dalam pendekatan konseling behaviorisme (pendekatan perilaku), sebab pendekatan ini lebih memfokuskan pada perilaku individu. 1. Peristiwa yang mendahului/Antecedent (A) Perilaku menyimpang yang dimiliki oleh seseorang seringkali bersifat situasional (Mickel:1968). Sebagai contoh, seorang anak terbiasa menggosok gigi pada saat saat bangun tidur dan akan tidur. Pada suatu saat, dia diharuskan untuk menggosok gigi pada waktu dan tempat yang berbeda. Kejadian ini secara tidak disadari dapat memunculkan perilaku seperti ingin muntah, kikuk dan lain sebagainya. Selain itu kejadian itu dapat memunculkan reaksi-reaksi fisiologis seperti gemetar, tekanan darah naik, mata merah dan lain sebagainya. Antecedent biasanya menyangkut lebih dari satu sumber atau tipe kejadian. Sumber antecedent dapat berupa afeksi (perasaan/emosi), somatis (keadaan fisik dan sensasi yang berhubungan dengan tubuh), perilaku (verbal, nonverbal dan respon motorik), kognitif (pemikiran, keyakinan, bayangan, dialog internal), konstektual (waktu, tempat, kejadian tertentu) dan relasional (kehadiran atau ketidakhadiran seseorang). Sebagai ilustrasi pernyataan di atas adalah kejadian sebagai berikut di bawah ini: Seorang individu datang kepada Konselor sekolah dan menyatakan bahwa dirinya merasa cemas. Dalam hal ini, Konselor sekolah dapat memprediksikan beberapa sumber kecemasan individu yang menjadi antecedent seperti kehilangan kontrol (kognitif), merasa bahwa tubuhnya tidak menarik (somatis), seringkali bangun terlambat (perilaku), berada di terminal (kontekstual) atau tidak mempunyai teman (relasional). Individu mengalami antecedent dalam keadaan yang berbeda-beda walaupun situasinya sama. Hal ini disebabkan masing-masing individu mempunyai pengalaman atau sejarah hidup yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain bahwa antecedent yang dihadapi oleh indvidu dipengaruhi oleh hasil belajarnya terhadap pengalaman hidup yang telah dilalui. Perlu diingat bahwa tidak semua sumber atau kejadian dapat dikatagorikan sebagai antecedent. Katagori antecedent adalah segala sesuatu yang mempengaruhi perilaku secara langsung. Artinya perilaku yang muncul pada saat ini dilakukan sebagai upaya merespon secara langsung terhadap kejadian atau sumber tertentu. Jika tidak mempengaruhi secara langsung, maka hal ini tidak dapat dikatagorikan sebagai antecedent. Dari penjelasan di atas, maka sangat penting bagi Konselor sekolah untuk mengetahui dan memahami sumber atau kejadian yang secara langsung mempengaruhi perilaku individu. Jika Konselor sekolah dapat mengidentifikasi antecendent secara tepat, maka secara tidak langsung Konselor sekolah telah memfasilitasi proses penyelesaian masalah. Selain itu, jika memungkinkan pemahaman terhadap kejadian tersebut dapat dipergunakan oleh Konselor sekolah untuk mengeliminasi perilaku yang menyimpang atau bahkan mengeliminasi sumber atau kejadian itu sendiri. 2. Perilaku/Behavior (B) Perilaku manusia dibedakan menjadi dua yaitu perilaku yang tampak (overt) dan perilaku tidak tampak (covert). Perilaku tampak adalah perilaku yang secara langsung dapat diamati oleh orang-orang di sekeliling kita. Contoh perilaku ini antara lain makan, minum, menari, berteriak, berbicara, memukul meja, memeluk dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku tidak tampak adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri kita (internal) yang sulit diamati dari luar. Contoh perilaku ini antara lain berpikir, merasa sedih, berkeyakinan, berkhayal dan lain sebagainya. Perilaku individu yang bermasalah tidak bisa dipandang dari satu sisi perilaku saja. Tetapi permasalahan tersebut dapat muncul karena banyak komponen yang terdapat dalam dirinya. Komponen tersebut antara lain komponen afektif (suasana hati), komponen kognitif (pikiran) dan komponen motorik (perilaku). Bisa jadi, perilaku yang tampak dianggap sebagai sumber masalah, tetapi sebenarnya masalah itu adalah pada perilaku yang tidak tampak. Usaha membantu memecahkan masalah individu dituntut kejelian didalam memahami permasalahan individu. Artinya, Konselor sekolah didalam memandang permasalahan yang dimiliki oleh individu sebaiknya dapat melihat komponen-komponen mana yang berpengaruh sangat kuat terhadap perilaku menyimpang individu. Kejelian didalam menangkap komponen mana yang mempengaruhi individu akan berpengaruh terhadap strategi pemecahan masalah apa yang akan diberikan. 3. Konsekuensi/Consequence (C) Konsekuensi suatu perilaku adalah kejadian yang mengikuti perilaku atau secara fungsional dihubungkan dengan perilaku. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua kejadian yang mengikuti perilaku tertentu dapat disebut sebagai konsekuensi. Pernyataan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut, anggap anda melakukan pembicaraan dengan seorang wanita gemuk yang gemar makan enak dan minum. Perempuan ini melaporkan kepada anda bahwa setelah makan dan minum dia merasa bersalah dan kemudian perempuan ini mngatakan pada dirinya bahwa dirinya tidak menarik. Selain itu, perempuan ini mengatakan kepada anda bahwa dia mengalami sulit tidur (insomnia). Walaupun kejadian (gemuk dan tidak menarik) tersebut merupakan hasil dari cara makannya yang salah, tetapi tidak bisa disebut sebagai konsekuen, kecuali jika hal itu justru mempengaruhi cara makannya yang salah. Konsekuensi dapat dikatagorikan sebagai sesuatu yang positif dan negatif. Konsekuensi positif mengarah pada suatu reward atau reinforcement. Artinya bahwa konsekuensi ini dapat menjaga atau malah meningkatkan perilaku yang telah terjadi. Sebagai contoh, seorang anak dapat menulis huruf A-H dengan baik dan benar. Secara langsung dia mendapatkan reinforcement dari guru dengan ungkapan “baik”. Maka ungkapan “baik” ini merupakan konsekuensi positif bagi anak. Dengan demikian, perilaku anak menulis dengan baik dan benar huruf A-H tersebut dapat dipertahankan atau malah meningkat. Hal ini dapat menjadi terbalik apabila anak tersebut mendapat punishment dari guru. Pada beberapa kasus atau kejadian, seringkali orang atau individu justru melakukan tindakan atau perilaku yang negatif, tetapi di lain pihak perilaku negatif ini dapat memberikan kepuasan bagi dirinya. Sebagai ilustrasi, individu minum minuman beralkohol pada saat dia mengalami masalah yang berat (DO, perceraian, PHK dll). Pada dasarnya perilaku minum minuman beralkohol tersebut adalah negatif, tetapi bagi individu yang bersangkutan, perilaku tersebut dapat menjadi positif, karena dengan minum minuman beralkohol tersebut dia dapat menghindar atau melupakan masalah. Ilustrasi lain, seorang ibu yang melahirkan anak yang tidak dikehendaki. Untuk melupakan anak tersebut, ibu ini meminum pil ekstasi atau pil psikotropika. Pada dasarnya pil tersebut adalah negatif, tetapi bagi ibu ini pil tersebut akan bermakna positif. Sebab dengan mengkonsumsi obat-obatan tersebut, maka ibu ini dapat terlepas dari tanggungjawab yang sebenarnya tidak diinginkan. Konsekuensi negatif dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku tertentu yang tidak diinginkan. Perilaku yang tidak diinginkan akan menurun jika terus menerus diikuti dengan stimulus atau kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan. Sebagai ilustrasi, seorang istri senang makan dan minum yang enak-enak. Setelah makan dan minum perempuan tersebut mendapatkan kepuasan (konsekuensi +). Pada saat lain, suaminya menyatakan bahwa jika istrinya makan dan minum tanpa kontrol, maka pada saat belanja, sang istri tidak akan diajak (konsekuensi -). Pemberian konsekuensi negatif yang terus menerus memungkinkan perilaku negatif (makan tidak terkontrol) dapat berkurang atau bahkan dihilangkan. Pemberian konsekuensi negatif ini seringkali diberikan untuk merubah perilaku seseorang secara langsung. Hal ini seringkali dilakukan di sekolah. Wujud nyata dari pemberian konsekuensi negatif ini adalah dengan pemberian hukuman kepada individu. Hanya saja, Konselor sekolah perlu mempertimbangkan kembali terhadap efek jangka yang akan diterima oleh individu di sekolah. Sebab, pemberian konsekuensi negatif ini tidak jarang pula justru menambah daftar masalah yang dialami oleh individu. Konsekuensi juga meliputi beberapa sumber atau tipe kejadian. Hal ini sama dengan antecedent yang meliputi afektif, kognitif, konstektual dan relasional. Pada saat memecahkan masalah, Konselor sekolah perlu mengadakan identifikasi tentang konsekuensi-konsekuensi apa yang dapat mempertahankan, meningkatkan atau bahkan melemahkan perilaku individu. Informasi tentang konsekuensi ini pada akhirnya akan membantu Konselor sekolah untuk memberikan strategi intervensi. Akhirnya Konselor sekolah sebaiknya menyadari bahwa antecedent, konsekuensi dan komponen-komponen permasalahan individu sebaiknya diidentifikasikan secara cermat. Hal ini didasarkan pada suatu prinsip bahwa tidak ada individu yang sama dimana penanganan masalah untuk masing-masing individu juga berbeda.

C. Diagnosis SWOT
Model SWOT sebenarnya sbanyak dilakukan pada bidang manajemen industri. Tetapi ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita adopsi untuk membantu mendiagnosis permasalahan yang dialami oleh individu. Sebagaimana kita pahami bersama bahwa SWOT merupakan singkatan dari Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (kesempatan) Threats (ancaman). Dalam proses layanan bimbingan dan konseling di sekolah, penggunaan strategi SWOT ini dapat dipegunakan untuk membantu individu dalam menyelesaikan masalah seperti pilihan jurusan, pilihan karier, penyesuaian diri dan lain-lain.
1. Strengths adalah faktor internal yang dimiliki oleh individu seperti percaya diri, tampan, cantik, tabah, sabar dan lain sebagainya. Untuk hal ini, konselor sekolah dapat membantu siswa untuk mengembangkan self-awareness (kesadaran diri) siswa melalui serangkaian daftar pertanyaan yang bisa dikembangkan sendiri oleh konselor sekolah.
2. Weakness adalah faktor internal yang berisi kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh siswa seperti rendah diri, pemalu, tidak sabaran, tidak bisa menyelesaikan masalah berhitung, jelek, gemuk, pendek dan lain sebagainya.
3. Opprtunities adalah faktor eksternal yang memungkinkan dilakukan oleh individu untuk mencapai apa yang diinginkan atau dibutuhkan. Kesempatan-kesempatan apa saja yang bisa dipergunakan oleh individu untuk mencapai tujuannya?
4. Threats adalah faktor eksternal yang mengancam keberadaan individu. Dalam hal ini, konseli/individu dapat menyatakan masalah-masalah yang mengancam dirinya. Berdasar pada uraian di atas, maka pada dasarnya pelaksanaan konseling dalam penggunaan strategi SWOT ini adalah melihat ancaman yang dinyatakan oleh individu. Berdasar pada ancaman ini, maka konselor akan dapat menentukan strategi konseling apa yang akan digunakan untuk membantu mengatasi masalah individu.

Simpulan
1. Kebanyakan perilaku seseorang adalah hasil belajar, walaupun itu bukan penyebab secara biologis terhadap permasalahan psikologis;
2. Penyebab masalah seseorang sangat komplek/multidimensional;
3. Permasalahan yang muncul sebaiknya dipandang secara konkrit dan operasonal;
4. Permasalahan muncul dalam kontek sosial dan dipengaruhi oleh antecedent internal dan eksternal yang secara fungsional mempengaruhi permasalahan dalam banyak hal; dan
5. Komponen permasalahan yang mempengaruhi antecedent dan konsekuensi dapat berupa afektif, somatis, perilaku, kognitif, kontekstual dan relasional.

Kamis, 02 Januari 2014

OPTIMALISASI PERAN KONSELOR MENYONGSONG PEMBERLAKUKAN KURIKULUM 2013

OPTIMALISASI PERAN KONSELOR MENYONGSONG PEMBERLAKUKAN KURIKULUM 2013 Latar Belakang Indonesia memiliki keragaman sosial budaya. Hal ini tidak dapat dipungkiri. keberagaman ini mengarahkan kita untuk berpikir bahwa layanan bimbingan dan konseling di sekolah sebaiknya disesuaikan dengan keberagaman latar belakang peserta didik. Kita pahami bersama bahwa perbedaan atau keragaman nilai-nilai budaya yang ada di sekitar kita memiliki kandungan nilai-nilai yang adi luhung. Sebuah nilai-nilai kehidupan yang sebaiknya kita pelihara untuk kebaikan kita bersama. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2013 telah menggulirkan regulasi dalam dunia pendidikan yaitu kurikulum 2013. Pada satu sisi, digulirkannya regulasi ini disambut baik oleh kalangan pendidikan, karena proses pembelajaran yang terjadi di sekolah akan berbasis pada pengalaman (evidence/experience based) peserta didik untuk mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap bahan ajar yang disajikan. Peserta didik akan diajak untuk melakukan serangkaian eksplorasi agar dapat memahami tujuan bahan ajar yang telah ditetapkan oleh guru bidang studi. Baker dan Kleijnen (dalam Kidd, 2006) menyarankan bahwa untuk pelaksanaan layanan konseling dan psikoterapi berbasis bukti (evidence) maka ada lima tahap yang sebaiknya dilakukan yaitu, a) The formulation of questions about effectiveness in such a way that they can be answered, 2) A search for the best evidence, 3) Assessment of that evidence for its validity and importance, 4) Application of approaches and techniques in practice, dan 5) Evaluation of effectiveness. Di bawah ini, ditampilkan beberapa kompetensi inti untuk masing-masing jenjang pendidikan. Kompetensi inti Siswa SMP/MTs KOMPETENSI INTI KELAS VII KOMPETENSI INTI KELAS VIII KOMPETENSI INTI KELAS IX Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tang-gungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan ling-kungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tang-gungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, per-caya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tang-gung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berin-teraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya Memahami pengetahuan (fak-tual, konseptual, dan prose-dural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu penge-tahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, kon-septual, dan prosedural) ber-dasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tam-pak mata Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konsep-tual, dan prosedural) berdasar-kan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (meng-gunakan, mengurai, me-rangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghi-tung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/ teori Mengolah, menyaji, dan me-nalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, meng-hitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori Mengolah, menyaji, dan me-nalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghi-tung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori Kompetensi siswa SMA/MA KOMPETENSI INTI KELAS X KOMPETENSI INTI KELAS XI KOMPETENSI INTI KELAS XII Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tang-gungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari so-lusi atas berbagai permasa-lahan dalam berinteraksi secara efektif dengan ling-kungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri se-bagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tang-gungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasa-lahan dalam berinteraksi se-cara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam per-gaulan dunia Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tang-gungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasa-lahan dalam berinteraksi se-cara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam per-gaulan dunia Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta mene-rapkan pengetahuan prose-dural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk meme-cahkan masalah Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prose-dural, dan metakognitif ber-dasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta mene-rapkan pengetahuan prose-dural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk meme-cahkan masalah Memahami, menerapkan, menganalisis dan menge-valuasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora de-ngan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak se-cara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu meng-gunakan metoda sesuai kaidah keilmuan Terkait dengan kondisi tersebut di atas, maka konselor sebaiknya menyelaraskan program layanan bimbingan dan konseling agar sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Selanjutnya Rita (2008) menyatakan bahwa visi konselor sekolah dijabarkan dalam aktivitas konseling ditujukan untuk mencapai standar akademik yang telah ditetapkan oleh sekolah. Dengan demikian dibutuhkan adanya pengetahuan, keterampilan dalam mengembangkan evaluasi program yang didasarkan pada data, standar yang berlaku, dukungan penelitian serta difokuskan pada sistem yang berlaku. Peran Konselor Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 81a/2013 menyatakan bahwa Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor adalah guru yang mempunyai tugas, tanggungjawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Selanjutnya disebutkan bahwa layanan bimbingan dan konseling adalah kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam menyusun rencana pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling, mengevaluasi proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan perbaikan tindak lanjut memanfaatkan hasil evaluasi. Permendikbud no 81a/2013 merupakan pedoman bagi para konselor di sekolah untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya di sekolah. Artinya dengan menyandang nama konselor, maka tugas yang akan dilaksanakan di sekolah harus disesuaikan dengan aturan yang ada. Di sini dibutuhkan pemahaman yang sama antara unsur-unsur terkait di sekolah. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 6, tersirat bahwa posisi Konselor sekolah sejajar dengan para pendidik lain seperti guru, dosen, pamong belajar, widyaiswara dan instruktur. Artinya, kualifikasi akademik yang dimiliki oleh Konselor sekolah minimal adalah sarjana strata satu jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. Persyaratan minimal ini menjadi acuan mutlak untuk dapat menunjukkan eksistensinya di masyarakat. Peran Konselor dalam menyongsong diberlakukannya Kurikulum 2013 pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum yang telah ada di Indonesia. Pada tahun 1984, dalam kurikulum tersebut terdapat program bimbingan karir. Guru Pembimbing pada masa itu mempersiapkan penjurusan pada siswa SMA dengan memberikan layanan informasi tentang jurusan A1, A2, A3 dan A4. Proses pemberian layanan informasi selanjutnya ditindaklanjuti dengan layanan penempatan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya. Pada tahun 2006, Pemerintah menggulirkan regulasi dengan nama Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP). Pada Kurikulum ini, istilah bimbingan karir diganti dengan pengembangan diri. Kita pahami bersama bahwa pengembangan diri peserta didik akan disesuaikan dengan informasi yang ada di lingkungan sekitar. Konselor bersama guru mata pelajaran memiliki kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi sumber daya yang ada di sekitar sekolah. Peserta didik diberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dengan difasilitasi oleh sekolah. Pada tahun 2013, Pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggulirkan kurikulum baru, yaitu kurikulum 2013. Fahrozin (2013) menyatakan bahwa program peminatan peserta didik merupakan salah satu program BK yaitu dengan nama penyaluran dan penempatan, atau komponen perancanaan individual. Pada dasarnya kegiatan penyaluran atau penempatan dilaksanakan di sekolah dengan nama layanan bimbingan karir yang dikembangkan secara sistematik untuk mendukung sistem pendidikan yang kuat, sehingga akan menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan kuat pada dunia kerja (Surya, 2013). Ada satu hal yang unik pada implementasi kurikulum 2013, khususnya terkait dengan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Hal unik ini adalah adanya peminatan siswa untuk memilih program IPA atau IPS yang dilakukan pada saat peserta didik mulai masuk di Sekolah Menengah Atas, dengan kata lain penjurusan dilakukan sejak awal peserta didik memasuki jenjang SMA/MA. Keadaan ini menjadi permasalahan bagi Konselor sekolah SMA/MA. Banyak diantara mereka mengatakan, “Bagaimana ini, penjurusan kok tidak didasarkan pada data konkrit siswa?”, ada yang mengatakan, “Kami tidak bertanggungjawab jika terjadi “salah pilihan”, bahkan ada yang mengatakan, “Ini tanggungjawab guru SMP”. Kita lihat di sini, ada kesan saling menyalahkan dan lempar tanggungjawab. Pernyataan-pernyataan tersebut mengarahkan kita untuk berpikir dengan memunculkan sebuah pertanyaan, “Apa yang sebaiknya dilakukan oleh guru SD/MI,SMP/MTs dan SMA/MA, terkait dengan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah?” Kondisi yang ada saat ini sebaiknya disikapi dengan pemikiran yang positif. Artinya “perbedaan-perbedaan” tersebut menunjukkan adanya dinamika perkembangan dalam dunia bimbingan dan konseling. “Perbedaan” yang ada ini menunjukkan bahwa bimbingan dan konseling sedang berproses untuk menjadi sebuah layanan yang lebih bermartabat dan bermanfaat bagi peserta didik khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Peran Konselor sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 81 A tahun 2013 adalah sebagai pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor bertugas dan berkewajiban menyelenggarakan layanan yang mengarah pada 1) pelayanan dasar, 2) pelayanan pengembangan, 3) pelayanan peminatan studi, 4) pelayanan teraputik, dan 5) pelayanan diperluas. Pelayanan dasar, pelayanan dasar mengarahkan konselor untuk memunculkan terpenuhinya kebutuhan siswa yang paling elementer, yaitu kebutuhan makan dan minum, udara segar, dan kesehatan, serta kebutuhan hubungan sosio-emosional (Depdikbud, 2013). Hal ini bukan berarti Konselor memberikan kebutuhan-kebutuhan siswa secara langsung. Pengertian ini mengandung makna bahwa upaya pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik sebaiknya dipenuhi dengan melakukan kerjasama antara Konselor dengan pihak-pihak tertentu seperti, orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar. Lebih konkrit lagi adalah kerjasama dengan orang-orang terdekat dari peserta didik (significant others). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa merekalah yang lebih mengerti kebutuhan peserta didik di luar sekolah. Bukan tidak mungkin, seorang konselor sekolah melakukan konseling atau konsultasi dengan orang tua siswa, khususnya bagi konselor yang bertugas di Sekolah Dasar (SD/MI). Hal didasarkan pada pemikiran bahwa siswa sekolah dasar mungkin tidak bisa diajak untuk melakukan konseling. Justru, orang tua peserta didik ini yang diberikan “layanan konseling” untuk menyelesaikan masalah anak-anaknya. Artinya orang tua diajarkan bagaimana menyelesaikan masalah anaknya melalui program konseling atau konsultasi. Pelayanan pengembangan, merupakan pelayanan untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-tahap dan tugas-tugas perkembangannya. Hal yang penting dalam pernyataan tersebut adalah tugas perkembangan. Peserta didik akan mencapai tugas perkembangan yang sama dalam satu tahapan tertentu, hanya bagaimana cara menyelesaikan tugas perkembangan itu yang masing-masing peserta didik berbeda. Dalam posisi ini, seorang Konselor akan dituntut untuk dapat memberikan layanan sesuai dengan tugas perkembangan dan pertumbuhan peserta didik. Terkait dengan layanan perkembangan ini, Hurlock (1994) memberikan beberapa fakta terkait dengan tugas perkembangan yaitu, a) Adanya peran kematangan dan belajar dalam perkembangan, b) Perkembangan mengikuti pola tertentu yang dapat diramalkan, c) Semua individu berbeda, d) Setiap tahap perkembangan mempunyai perilaku khusus, e) Setiap tahap perkembangan memiliki resiko, f) Perkembangan dibantu rangsangan, dan g) Perkembangan dipengaruhi oleh perubahan budaya. Pelayanan peminatan studi, pelayanan yang secara khusus tertuju kepada peminatan/lintas minat/pendalaman minat peserta didik sesuai dengan konstruk dan isi kurikulum yang ada. Arah peminatan/lintas minat/pendalaman minat ini terkait dengan bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir dengan menggunakan segenap perangkat (jenis layanan dan kegiatan pendukung) yang ada dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Perlu kita pahami bersama bahwa proses peminatan studi dan karir yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sebaiknya dibantu oleh Konselor dengan berbasis data dan teori. Berbasis data dimaksudkan bahwa layanan peminatan ini sebaiknya didasarkan pada data aktual yang dimiliki oleh peserta didik seperti bakat, minat, ketrampilan yang dimiliki, data orang tua, data lingkungan dan masih banyak data lain yang sebaiknya dikumpulkan oleh Konselor. Hal kedua terkait dengan upaya membantu layanan peminatan peserta didik adalah penggunaan teori pilihan karir yang dipergunakan oleh Konselor sebagai basis pelaksanaan. Banyak teori karir yang berkembang dan dapat dipergunakan oleh konselor untuk membantu peserta didik dalam pemilihan peminatan. Salah satu teori pilihan karir yang bisa diterapkan di sekolah adalah teori pilihan karir RIASEC yang diperkenalkan oleh Holland. RIASEC adalah akronim dari R (Realistik), I (Investigative), A (Artistic), S (Social), E (Entrepreneur), dan C (Conventional). ILO (2011) yang bekerja sama dengan ABKIN memberikan daftar pekerjaan yang terkait dengan teori karir RIASEC sebagai berikut. Realistik Investigatif Artistic Social Entrepreneur Conventional Polisi Udara Guru mesin Guru Seni, drama dan musik Guru ekonomi Manajer penjualan Akuntan Tukang listrik Insinyur Piranti lunak komputer, sistem Guru bahasa Inggris & sastra Guru antropologi dan arkeologi Analis manajemen Auditor Pemasang pipa Insinyur piranti lunak komputer, aplikasi Guru bahasa asing dan sastra Guru ilmu politik Manajer sistem informatika dan komputer Pekerja administratif Pemasang pipa Guru ilmu pertanian Manajer periklanan dan promosi Guru Ilmu Budaya Manajer, Pemimpin Cabang dan Divisi Keuangan Pelayanan Mekanik mesin pendingin dan penghangat ruang kesehatan Guru khusus Direktur Guru sosiologi Eksekutif pemerintah Sekretaris bidang hukum Mekanik kulkas Ahli anestesi Produser Guru sejarah Manajer pelayanan kesehatan Ispektur bea cukai dan imigrasi Pengemudi truk dan trailer Ahli penyakit dalam Direktur pencari bakat Instruktur dan guru bidang keperawatan Eksekutif sektor swasta Petugas polisi bidang investigasi dst dst dst dst dst dst Pelayanan teraputik, pelayanan untuk menangani pemasalahan yang diakibatkan oleh gangguan terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan, serta pelayanan peminatan. Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, kegiatan belajar, karir. Pelayanan teraputik masuk dalam katagori tindakan kuratif, dimana peserta didik akan mendapatkan layanan pengentasan terhadap masalah yang sudah ada baik terkait dengan masalah pribadi, sosial, keluarga, belajar dan karir. Pada pelayanan teraputik ini, maka keterampilan konselor dalam mempergunakan strategi konseling akan sangat dibutuhkan. Pada dasarnya disinilah bentuk profesionalisme konselor akan sangat dibutuhkan, mulai dari bagaimana melakukan identifikasi masalah, diagnosis masalah, prognosis, treatment dan follow up. Para konselor sekolah sebaiknya mulai melakukan introspeksi dengan memunculkan pertanyaan, “Sudah layakkah saya menjadi konselor sekolah?” Pertanyaan ini mengandung makna yang sangat dalam, artinya, jika dijawab “ya” maka pertanyaan selanjutnya adalah “Apa yang bisa saya tingkatkan dari ketrampilan saya?” dst. Jika jawabannya adalah “tidak”, maka perlu dimunculkan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa menyetalakan ketrampilan konseling saya?” Kondisi ini perlu dilakukan bagi semua konselor, agar pelayanan yang diberikan kepada peserta didik menjadi sebuah pelayanan yang bermakna dan bermartabat. Pemahaman dan keterampilan konselor untuk melaksanakan kegiatan layanan teraputik ini menjadi perhatian utama bagi para konselor. Upaya perolehan keterampilan ini dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti mengikuti pelatihan, workshop atau seminar tentang ke-BK-an. Sejauh pengamatan penulis, masih banyak layanan konseling dilakukan dengan tidak memperhatikan kaidah-kaidah konseling. Penggunaan keterampilan dasar konseling dan penggunaan strategi konseling masih dilakukan sembarangan. Kondisi ini sebaiknya segera kita kikis bersama, jika kita mengatas namakan KONSELOR. Pelayanan diperluas, pelayanan dengan sasaran di luar diri siswa pada satuan pendidikan, seperti personil satuan pendidikan, orang tua, dan warga masyarakat lainnya yang semuanya itu terkait dengan kehidupan satuan pendidikan dengan arah pokok terselenggaranya dan suskesnya tugas utama satuan pendidikan, proses pembelajaran, optimalisasi pengembangan potensi peserta didik. Pengertian tersebut mengarahkan kita untuk berpikir bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak terfokus pada layanan peminatan saja. Kolaborasi antara Konselor dengan pihak-pihak lain di luar sekolah sangat diperlukan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi siswa untuk dapat menuntaskan tugas perkembangan dan pertumbuhannya. Simpulan Kurikulum 2013 merupakan sebuah awal dilakukannya program pengembangan peserta didik secara terpadu Referensi Depdikbud. 2013. Kompetensi Dasar SMA/MA. Jakarta: Depdikbud Depdikbud. 2013. Kompetensi Dasar SMP/MTs. Jakarta: Depdikbud Depdikbud. 2013 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 81A/2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Depdikbud. Fahrozin. Muh. 2013. Penguatan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Implementasi Kurikulum 2013. Makalah Disampaikan dalam Seminar Internasional Forum FIP JIP se-Indonesia. Medan 2013. Hurlock, Elisabeth. 1994. Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. ILO. 2011. Panduan Pelayanan Bimbingan Karir. Jakarta: Kantor Perburuhan Internasional Kidd, Jennifer. 2006. Understanding Career Counselling:Theory, Research and Practice. London: Sage Publications Mozdzierz, Gerald J., Peluso, Paul R., Lisiecki, Joseph. 2009. Principles of Counseling and Psychotherapy: Learning the Essential Domains and Nonlinear Thinking of Master Practitioners. New York: Routledge Schellenberg, Rita. 2008. The New School Counselor: Strategies for Universal Academic Achievement. New York: Rowman & Littlefield Education Surya, Muhammad. 2013. Career Guidance in the Globalization Era.Makalah disampaikan dalam international conference: “new careers in new era” di surabaya, tanggal 5-6 juli 2013